• Document: BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan 7 sub bab antara lain latar belakang penelitian yang menjelaskan mengapa mengangkat tema JFC, Identitas Kota Jember dan diskursus masyarakat jaringan....
  • Size: 296.41 KB
  • Uploaded: 2019-03-14 14:51:15
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

    BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan 7 sub bab antara lain latar belakang penelitian yang menjelaskan mengapa mengangkat tema JFC, Identitas Kota Jember dan diskursus masyarakat jaringan. Tujuan penelitian menjadi jawaban dari rumusan masalah, kemudian pada bab ini pula disampaikan mengenai signifikansi penelitian, limitasi, dan sistematika penulisan yang menjelaskan bab-bab dalam tulisan ini. Sebagai bab pembuka dalam bagian ini menjelaskan tiga hal, pertama latar belakang yang mendasari dilakukannya penelitian mengenai Jember Fashion Carnaval, Identitas Kota Jember, dan diskursus masyarakat jaringan. Kedua, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, meliputi tujuan khusus dan tujuan umum. Ketiga, sistematika penulisan tesis yang seluruhnya disampaikan dalam satu bab pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Branding maupun identitas kota bukanlah hal yang baru. Beberapa kota di Eropa bahkan sengaja mengirim para ahlinya mencari ide-ide baru untuk mengembangkan kota (Silk, 2000). Selain itu, dalam diskursus masyarakat jaringan dikatakan bahwa dengan jarak ruang dan waktu yang semakin kabur, tradisi dan budaya lokal berusaha mempertahankan identitas dari terpaan globalisasi (Castells, 1997). Hal ini seiring dengan kompetisi kota-kota di Indonesia untuk meningkatkan pariwisata di era otonomi daerah. Tak terkecuali dengan kota-kota di Jawa Timur, khususnya di Jember sebagai salah satu kota yang berada di daerah Tapal Kuda turut tertantang dan membaca kebutuhan mengembangkan identitas kota dalam kompetisi kota-kota ini. Universitas Indonesia    Jember fashion..., Raudlatul Jannah, FISIP UI, 2010.     Jember, sebagai sebuah kota di ujung Jawa Timur lebih sering dikenal sebagai kota tembakau, atau kota dengan budaya pendalungan 1 , namun hampir tidak memiliki tradisi yang kuat 2 , sehingga branding atau identitas Kota Jember menjadi kebutuhan sejak orang-orang Jember pergi ke luar Jember untuk merantau, bekerja, dan bersekolah. Orang di luar Jember mulai bertanya-tanya di manakah lokasi Jember, apa yang terkenal dari Jember, apa istimewanya Jember, apa menariknya Jember. Pertanyaannya ini mau tidak mau selalu muncul saat “orang Jember” memperkenalkan diri sebagai orang yang berasal dari “Jember”. Sementara itu, kenyataannya adalah Jember hanya sebagai sebuah wilayah tanpa akar tradisi yang kuat atau tanpa identitas yang khas (Adibah, 2006). Hal ini kemudian menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi “orang Jember” untuk menunjukkan identitasnya, terbukti Pemkab Jember menginisiasi pembuatan tari khas Jember (tari Labako yang menceritakan mengenai tembakau) namun tidak begitu populer (Adibah, 2006:85). Hingga akhirnya tercetus ide menciptakan sebuah karnaval fashion yang diikuti oleh pemuda dan pemudi Jember. Jember Fashion Carnaval (JFC) adalah sebuah karnaval yang menghadirkan catwalk terpanjang di dunia yakni 3,6 km di jalan-jalan di kota Jember 3 . Para peserta dengan kostum rancangannya sendiri menari-nari bersama alunan musik yang menghentak di sepanjang jalan hingga berakhir di Stadiun Utama Kota Jember untuk melakukan penutupan dan berakhir sore hari, sekitar pukul 17.00 wib. Karnaval ini mengambil tema yang berbeda setiap tahunnya. Dimulai dengan panitia yang mengaudisi peserta hingga didapatkan ratusan anak                                                              1 Budaya pendalungan adalah sebutan bagi budaya Jember dan wilayah tapal kuda lainnya yang berarti budaya campuran dan perpaduan antara budaya Jawa, Madura, dan Using namun tidak ada budaya yang dominan. Percampuran ini demikian merata, sehingga tidak ada yang benar-benar Jawa, Madura, ataupun Using. Mereka sendiri menyebut diri mereka dengan sebutan “orang Jember”. 2 Dalam Adibah, (2006: 84) apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dengan membakukan simbol tembakau sebagai simbol kota nyatanya juga gagal populer. Ini terjadi karena tembakau tidak hanya bisa ditemui di Jember, tetapi juga di daerah sekitar Jember. Begitu pula baju khas daerah dengan filosofi yang khas dari daerah itu. Kekhasan tersebut ternyata juga gagal populer dan tidak mendapat respon positif dari masyarakat. 3 www.jemberfashioncarnival.com, 2009. Universitas Indonesia    Jember fashion..., Raudlatul Jannah, FISIP UI, 2010.     muda 4 , yang akan ditraining selama 6 bulan agar peserta bisa merancang kostumnya sendiri sekaligus dapat memeragakann

Recently converted files (publicly available):