• Document: Prevalensi Nematoda Gastrointestinal pada Sapi Bali yang Dipelihara Peternak di Desa Sobangan, Mengwi, Badung
  • Size: 455.72 KB
  • Uploaded: 2019-03-14 05:29:42
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

Indonesia Medicus Veterinus 2014 3(5) : 411-422 ISSN : 2301-7848 Prevalensi Nematoda Gastrointestinal pada Sapi Bali yang Dipelihara Peternak di Desa Sobangan, Mengwi, Badung Muhsoni Fadli1, Ida Bagus Made Oka2, Nyoman Adi Suratma2 1 Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan, 2 Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jalan PB Sudirman, Denpasar, Bali; Telp/Fax: (0361) 223791 Email :muhsoni_19@yahoo.com ABSTRAK Infeksi parasit cacing masih menjadi faktor yang sering mengganggu kesehatan sapi bali dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi, pengaruh perbedaan tempat pemeliharaan (lantai kandang), dan jenis-jenis cacing nematoda gastrointestinal yang menginfeksi sapi bali yang dipelihara peternak di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Sampel penelitian adalah feses sapi bali berjumlah 100 sampel, diambil dari 50 sampel sapi bali yang dipelihara dengan lantai kandang semen, dan 50 sampel sapi bali yang dipelihara dengan lantai kandang tanah, yang dipelihara peternak sapi yang ada di Desa Sobangan. Sampel tinja diperiksa dengan metode apung menggunakan larutan NaCl jenuh. Parameter yang diamati adalah morfologi dan morfometri telur cacing untuk mengetahui jenis cacing nematoda gastrointestinal yang menginfeksi sapi. Kejadian infeksi cacing nematoda gastrointestinal dianalisis menggunakan analisis chisquare untuk mengetahui hubungan lantai kandang tanah dan lantai kandang semen. Prevalensi cacing nematoda gastrointestinal pada sapi bali yang dipelihara peternak di Desa Sobangan sebesar 21%. Prevalensi cacing nematoda gastrointestinal pada sapi bali yang dipelihara peternak berdasarkan lantai kandang tanah dibandingkan lantai kandang semen tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Jenis cacing nematoda gastrointestinal yang ditemukan terdiri dari : Bunostomum phlebotomum, Chabertia ovina, Nematodirus filicollis, Strongyloides papillosus, Toxocara vitulorum, Trichostringylus axei, dan Trichuris ovis. Meskipun ditemukan beberapa jenis cacing, namun tidak membahayakan, karena intensitasnya rendah. Kata-kata kunci : Prevalensi, Nematoda Gastrointestinal, Sobangan PENDAHULUAN Sapi bali merupakan tipe sapi yang berukuran kecil namun peluang pengembangannya sangat potensial, karena memiliki kemampuan reproduksi dan adaptasi yang tinggi(Talib et al., 2002). Infeksi parasit cacing masih menjadi faktor yang sering mengganggu kesehatan sapi bali dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar terutama pada peternakan rakyat, karena didukung oleh penerapan sistem pemeliharaan dan kebersihan lingkungan yang buruk (McManus dan Dalton, 2006). 411 Indonesia Medicus Veterinus 2014 3(5) : 411-422 ISSN : 2301-7848 Yasa (2011) melaporkan bahwa nematoda yang menginfeksi sapi bali di desa Petang, kecamatan Petang, kabupaten Badung adalah Haemonchus contortus (24,07%), Toxocara vitulorum (2,77%), Bunostomum phlebotomum (1,85%), Strongyloides papillosus (3,70%), Trichostrongylus axei (24,07%), Nematodirus filicollis (5,55%), Cooperia punctata (2,77%), dan Oesophagustomum radiatum (1,85%). Sedangkan Khozin (2012) melaporkan bahwa prevalensi penyakit cacing saluran pencernaan melalui pemeriksaan feses pada sapi Peranakan Ongole (PO) dan Brahman di kecamatan Sugio, kabupaten Lamongan sebesar 43%. Tujuh jenis cacing yang menginfeksi saluran pencernaan pada sapi berasal dari kelas nematoda yaitu Oesophagustomum spp., Bunostomum spp., Toxocara spp., Trichuris spp., Mecistocirrus sp., Cooperia spp., danTrichostrongylus spp. Di desa Sobangan terdapat sentra pembibitan sapi bali yang dimiliki pemerintah kabupaten Badung bekerjasama dengan instansi terkait, dan salah satunya Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Proyek ini direncanakan menjadi pusat pembibitan sapi bali yang ada di Bali dimana bibit unggul yang dihasilkan akan dikirim ke berbagai kelompok peternak dan beberapa instansi yang telah menjalin kerjasama. Sehingga, tentu manajemen pemeliharaannya tersusun dengan baik, mulai dari sistem perkandangan yang menerapkan sistem kandang intensif, sampai pengelolaan tempat pakan dan minum yang dibuat secara permanen. Selain itu, lantai kandang terbuat dari semen yang bertekstur, sehingga permukaannya tidak licin. Pengobatan parasit internal diberikan secara berkala. Sistem pemeliharaan seperti sentra pembibitan belum sepenuhnya diadopsi oleh peternak disekitarnya, masih ada yang menerapkan cara pemeliharaan semi intensif dan ekstensif. Para peternak di Desa Sobangan terkesan belum memperhatikan manajemen perkandangan dan penanganan penyakit. Hal ini bisa saja disebabkan karena sebagian besar peternak kurang bisa mencerna penjelasan tentang manajemen pemeliharaan yang sebelumnya pernah d

Recently converted files (publicly available):