• Document: BADI UL ALAM FI DZIKRI QISHSHATI NUH ALAIHISSALAM
  • Size: 1.01 MB
  • Uploaded: 2019-05-17 00:36:25
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

‫بديع العامل‬ ‫يف ذكر قصة نوح عليه السالم‬ ‫نقلته من بدائع الزهور يف وقائع ادلهور‬ ‫لالمام جالل ادلين عبد الرمحن بن أيب بكر الس يوطي‬ ‫املرتمج شعراين السمفوري‬ ‫‪1‬‬ BADI’UL ‘ALAM FI DZIKRI QISHSHATI NUH ‘ALAIHISSALAM Disadur dari Kitab “Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur” Karya Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar As-Suyuthiy Alih Bahasa: Sya’roni As-Samfuriy Daftar Isi: 1. Kata Pengantar 2. Nama Asli Nabi Nuh As. 3. Awal Mula Diutusnya Nuh As. Sebagai Rasul Allah 4. Permulaan Dakwah Nabi Nuh As. dan Gelar “Ulul ‘Azmi” yang Pertama 5. Istri-Anak Nabi Nuh As. dan Kerasnya Dakwah yang Dihadapinya 6. Dakwah Nabi Nuh As. dari Masa ke Masa 7. Detik-detik Menjelang Banjir Bandang Pada Masa Nabi Nuh As. 8. Sosok Pembawa Kayu-kayu Perahu Nabi Nuh As. 9. Peristiwa Pengangkatan Kayu-kayu Perahu Nabi Nuh As. dari Kufah ke Baghdad 10.Proses Pembuatan Perahu Nabi Nuh As. dan Penyempurnanya adalah Nama 4 Khalifah Islam 11.Persiapan Pemberangkatan Perahu Nabi Nuh As. 12.Undang-undang Bagi Para Penumpang Perahu Nabi Nuh As. 13.Ramalan Akan Datangnya Banjir Bandang Nabi Nuh As. 14.Misteri Bangunan Kuno dalam Sumur 15.Bangunan Kuno Raja Suraid 16.Ketika Banjir Bandang Datang Menyapa 17.Banjir Bandang Nabi Nuh As. Meratai ke Seluruh Penjuru Bumi 18.Gambaran Dahsyatnya Kepayahan Manusia Saat Menghadapi Banjir Bandang 19.Lamanya Banjir Bandang Pada Masa Nabi Nuh As. 20.Pendaratan Perahu Nabi Nuh As. 21.Celak “Itsmid” Saat Nabi Nuh As. Keluar dari Perahu 22.Kehidupan Baru Usai Banjir Bandang 23.Perubahan Keadaan Bumi Pasca Banjir Bandang 24. Nabi Nuh As. Mengawali Hidup Baru dengan Menanam Pepohonan 25. Penutup 2 1. Kata Pengantar Bismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa’ala aalihi washahbihi waman walah. La haula wala quwwata illa billah. Kami namakan terjemahan ini dengan judul “Badi’ul ‘Alam fi Qishshati Nuh ‘Alaihissalam” (Alam Baru, Kisah Kehidupan Nabi Nuh As.). Yang mana kami nukil dari kitab Bada-i’ az-Zuhur fi Waqa-i’ ad-Duhur karya seorang ulama besar madzhab Syafi’i, al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar as- Suyuthiy, atau yang biasa kita kenal dengan Imam Suyuthi. Sejarah dalam agama Islam merupakan perkara yang penting. Dimana hal tersebut bisa dibuktikan melalu al-Quran sebagai kitab suci agama Islam. Isi kandungan dalam al-Quran sebagian besarnya adalah memuat sejarah, baik sejarah para nabi dan rasul terdahulu serta kaumnya maupun sejarah para orang shaleh. Meskipun begitu bukan berarti al-Quran adalah kitab sejarah. Bukan hanya menceritakan sejarah para nabi dan rasul, Allah Swt. juga mengamanati kepada generasi selanjutnya untuk memperhatikan pelestarian dan penjagaan peninggalan- peninggalan dari sejarah itu. Dalam surat al-Isra’ ayat pertama, kenapa Allah Swt. tatkala mengisra’kan hamba terkasihNya -Sayyidina Muhammad Saw.- harus melewati Masjid al-Haram dan Masjid al- Aqsha? Hal itu tiada lain karena di balik dua tempat itu terkandung sejarah dan peninggalan sejarah mayoritas para nabi dan rasul terdahulu. Allah hendak melestarikan dan menjaga kedua tempat suci tersebut, yang selanjutnya adalah tugas kita bersama. Umat-umat agama lain dengan bangga menyebutkan peninggalan-peninggalan nenek moyang mereka sebagai bukti keakuratan sejarah mereka. Kita sebagai umat Islam seharusnya lebih bangga melakukannya. Karena pastinya kita telah meyakini bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah Swt. Namun, ketika kita berbangga diri dengan agama Islam kemudian ada orang yang menanyakan bukti-bukti peninggalan sejarah agama kita, apa yang hendak kita jawab jikalau terhadap peninggalan-peninggalan sejarah itu saja tidak tahu? Atau bahkan ketika peninggalan-peninggalan sejarah agama kita telah dihancurkan, bisa-bisa generasi yang akan datang akan menganggap al-Quran hanya sebagai “buku dongeng” belaka. Lalu salah siapakah kalau nantinya benar-benar terjadi pada generasi penerus kita? Alhasil, semoga dengan disusunnya kitab-kitab sirah/sejarah oleh para ulama kita terdahulu, dapat menjadikan pelecut bagi kita. Pelecut semangat yang semakin menghausi diri kita untuk lebih giat lagi menggali sejarah-sejarah yang masih bertumpuk di rak-rak perpustakaan, dalam lembaran-lembaran kitab para ulama terdahulu. Ketika kita menyebut sejarah kaum shalihin saja Allah hujankan rahmat, apatah lagi jika menyebut-nyebut sejarah para nabi dan rasul. Sebagai insan pemilik gudang dosa, al-faqir memohon dengan sangat agar semua tulisanku jangan di-Aamiin-kan sepenuhnya karena tentu yang salah lebih banyak dari yang benar. Koreksi dan kritikan yang membangun sangat kami idam-idamkan. Jazakumullah ahsanal jaza’. 3 ‫‪2. Nama Asli Nabi Nuh As.‬‬ ‫وهو نوح بن

Recently converted files (publicly available):